DIALOG ANTARA KERAGUAN DAN DIRI SUJATI.

DIALOG ANTARA KERAGUAN DAN DIRI SUJATI.

BALI MEDITATION FESTIVAL

DIALOG ANTARA KERAGUAN DAN DIRI SUJATI.

Bhatara Iswara ada di puncak gunung Kailasa. Begitu Siwa Tattwa menyebutkan. Kailasapada sesungguhnya ada pada puncak kesadaran (Tungtungin Idep). Lalu, Bhagawan Wrhaspati yang masih mengalami keraguan, bertanya kepada Bhatara hakikat semua Tattwa. Tidak ubahnya, diri yang mengalami keraguan dan bermaksud bertanya kepada Iswara sebagai Kesadaran murni dalam diri. Jadi, dialog Siwa dan Wrhaspati dalam Tattwa sesungguhnya dialog dalam diri antara keraguan dengan kesadaran sebagai Sang Diri Sejati.
.
Dialog yang tidak akan pernah usai, selama diri belum memahami semua Tattwa. Tetapi, semua Tattwa tidak akan mengantar seseorang pada kemanunggalan, jika belum menjalani Sadanggayoga. Tetapi, Sadanggayoga akan sia-sia, jika belum mempraktikan 10 Sila (tata laku). Namun demikian, semua itu akan sia-sia jika seseorang belum mengetahui Paramartha dan Samyak Jnana (inti pengetahuan). Tetapi, inti pengetahuan tidak akan menyala sebelum seseorang Masdhana (praktik spiritual), yakni Mahoma (maŋhanākĕn homa ). Homa adalah pemujaan api. Pemujaan api yang utama adalah melaksanakan Homa Kadyatmikan.
.
Jadi, Bhatara Iswara menyuruh Sang Bhagawan untuk melaksanakan Homa Kadyatmikan. Homa yang bukan hanya sekadar memuja api dalam bentuk seremonial. Tetapi menyalakan Siwagni dalam tubuh. Jadi raga inilah Kunda itu. Tubuh sebagai Kunda atau tungku api, maka api berada pada Nabi (Brahma Ghranti), dan disimbolkan dengan aksara ANG sebagai Agnirahasya. Aksara ANG itu sifatnya panas, dan adanya panas itu bersumber dari api yang ada dalam Tabunan. Prosesi Homa Kadyatmikan ini kemudian lazim dikenal dengan proses Dag-Dhi-Karana dan Amerti Karana, yakni proses pembakaran segala kekotoran diri dan menghidupkan kembali kesadaran Siwa dalam diri. Sebelum Homa digelar dan aksara ANG sebagai sumber api dinyalakan, terlebih dahulu Sang Atma pada inti teratai hati dituntun dan ditempatkan pada jantung. Proses nuntun Sang Hyang Atma dari hati dengan mantra khusus, yakni Sapta-Om-kara-atma-mantra; Wṛsada Mudra, selanjutnya Homa digelar dengan menyalakan api pada tungku/tubuh, sehingga segala kekotoran dibakar melalui Dagdhi-Karana.
.
Melalui mantra Sang Hyang Kala Agni Rudra semua kekotoran dibakar, sehingga diri tersucikan kembali. Setelah api menyala hebat dan membakar segala kekotoran itu, maka akan ada keterpisahan antara Sang Atma dengan segala hal yang bersifat material (natuna), baik negatifitas wasana karma dan segala kekotoran itu. Kemudian nyala api yang berkobar akan memurnikan diri. Agni berada dalam nabi (dengan aksara ANG) dinyalakan dan dinaikkan melalui dua nadi (ida-pinngala) yang ada dalam sumsuna (tulang belakang) sampai pada padma hrdaya. Api yang menyala dalam tubuh (tungku api) membakar sarwa papa klesa, dan dari atas munculah amrtha melalaui amrti karana. Air Byomasiwa dituangkan pada api menyala, dan segala kekotoran diri akan dihanyutkan melalui Saptanadi, yang bermuara di sungai Srayu tempatnya di telapak kaki.
.
Orang yang menekuni jalan Kasiwan, prosesi ini merupakan Yoga Rahasia di mana segala kekotoran diri dapat dilenyapkan. Tatkala semua dilenyapkan, maka pandangan Sang Atma tidak lagi mengarah ke bawah, tetapi ke atas ke sumber Tattwa itu. Ia (Sang Atma) tidak lagi termangu-mangu dan mabuk akan semuanya, tetapi sadar bahwa dirinya adalah Paramasiwa sesungguhnya. Nikmat Pramasunya sebagai Bogha Paramasiwa akan dikecap hingga meniadakan semua Tattwa.
https://myischool.wordpress.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *